Tampilkan postingan dengan label sapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sapi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 22 Oktober 2013
Cara Beternak Sapi atau Ternak Sapi Pedaging

Pada postingan sebelumnya kita telah membahas cara memelihara sapi, pada postingan kali ini kita akan berlanjut membahas cara beternak sapi atau ternak sapi pedaging.
Setelah kita mendapatkan sapi indukan yang berkualitas (ciri-ciri berkualitas bisa di baca di postingan Cara Memelihara Sapi) kita harus menegetahui tanda-tanda sapi pedaging betina yang sudah memiliki birahi dan siap di kawinkan, tanda-tandanya:
1. Sapi selalu gelisah dan ribut
2. Mencoba menaiki sapi lain
3. Biasanya nafsu makan berkurang
4. Vulva (alat kemaluannya) membengkak dan kemerah-merahan
5. Dari vulva keluar cairan yang bening
6. Membiarkan dinaiki temannya atau oleh pejantan
Proses Perkawinan
Sapi supaya memperoleh keturunan biasanya ada dua macam proses perkawinan, yang pertama prooses secara alami (sapi betina langsung dikawinkan denggan sapi jantan) dan yang kedua proses Inseminasi Buatan (IB) atau sering dikenal kawin suntik. Proses kawin suntik biasanya mengambil air mani (sperma) jantan yang berkualitas kemudian disuntikan ke sapi betina yang sudah birahi.
Proses kawin dengan inseminasi buatan ini banyak dilakukan oleh para peternak sapi, selain prosesnya mudah para peternak tidak usah memelihara sapi jantan. Air mani yang berkualitas bisa kita dapatkan di dinas peternakan terdekat.
Sapi betina akan mengalami birahi pada waktu-waktu tertentu saja, dan tidak bisa kita perkirakan sebelumnya. Untuk itu kita harus mengetahui waktu kapan yang baik untuk mengawinkan sapi setelah mengalami birahi, di bawah ini ada tabel waktu untuk mengawinkan sapi:
Waktu Birahi terjadi | Waktu mengawinkan yang baik | Waktu terlambat |
Pagi - pukul 10.00 | Siang - sore hari itu juga | Besok pagi harinya |
Siang - pukul 13.00 | Sore hari atau besok paginya | Besok paginya lebih dari pukul 08.00 |
Sore atau malam hari | Malam hari itu juga atau keesokan harinya sampai puku 10.00 | Besok lebih dari pukul 10.00 |
Sapi yang sudah birahi harus secepatnya dikawinkan karena menunda sapi yang sudah birahi atau siap kawin akan berperngaruh pada penimbunan lemak sekitar indung telur yang mengganggu proses pembentukan sel telur.
Tetapi sapi yang dikawinkan terlalu awal akan berdapak juga pada keturunannya, seperti anak sapi yang dilahirkan sering kurang sehat, si induk akan menjadi kerdil, dan pada waktu kelahiran akan mengalami kesulitan.
Macam-macam Perkawinan
1. Perkawinan murni (inbreeding), yaitu perkawinan antara sapi-sapi pedaging yang berasal dari satu keluarga, seperti anak dengan anak, bapak dengan anak atau anak dengan ibu.
2. Perkawinan silang/blasteran (Crossbreeding), yaitu perkawinan antara sapi-sapi pedaging dari dua jenis yang berbeda. Misalnya sapi Brahman dengan sapi Jawa. Cara ini biasanya digunakan untuk meningkatkan mutu sapi pedaging local supaya mendapatkan keturunan yang lebih baik dan besar.
Cara Memberikan Makanan
Untuk jenis sapi pedaging ini pemeberian makanan harus benar-benar diperhatikan, seperti halnya pemberian konsentrat (penguat) yang merupakan campuran dari berbagai bahan makan dan umbi-umbian, sisa hasil pertanian, sisa hasil pabrik, dan lain-lain yang mempunyai nilai gizi cukup dan mudah dicerna oleh sapi.
Sedangkan jenis rumput yang baik untuk sapi pedaging ini yaitu rumput gajah dan rumput benggala. Untuk perbandingan pemberian makanan untuk sapi pedaging ialah rumput 73,6% dan konsentrat 26,2%. Tetapi kita juga harus mengetahui apakah sapi tersebut digembalakan atau dikandang terus.
Ransum
Ransum yaitu campuran dari berbagai macam bahan makanan, baik berasal dari hijauan, biji-bijian, umbi-umbian, hewan, dan lain-lain. Sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup ternak, baik dalam jumlah maupum kualitas
Dosis makanan untuk sapi dengan berat badan 350 kg :
Dosis makanan untuk sapi dengan berat badan 350 kg :
Bahan Makanan | Bahan Kering (BK/kg) | Protein Dapat Dicerna (PDD/kg) | TDN (kg) |
3 kg rumput lapangan | 7,7 | 0,63 | 6,30 |
2 kg dedak halus | 1,78 | 0,13 | 0,90 |
0,5 bungkil kelapa | 0,44 | 0,19 | 0,47 |
37,5 kg ransum | 9,92 | 0,85 | 7,67 |
Standar kebutuhan | 8,89 - 10,07 | 0,66 - 0,73 | 6,40 - 7,21 |
Kandang Sapi
Kandang sapi yang baik akan berpengaruh terhadap perkembangan sapi itu sendiri walaupun hal ini sering dikesampingkan oleh sebagian para peternak. Sapi yang memiliki kandang yang baik akan mudah dikontrol terutama dari segi kesehatannya.
Lokasi kandang yang baik
- Terkena sinar matahari, tidak becek dan lebab
- Agak jauh dari rumah kita atau rumah tetangga
- Sesuaikan ukuran dengan umur sapi. Untuk sapi betina dewasa 1,5 x 2 m, sapi jantan dewasa 1,8 x 2 m, sapi muda 1 x 2 m, anak sapi 1,5 x 2 m.
Perlengkapan kandang dan alat-alat, seperti:
- Tempat makan sapi
- Tempat minum sapi
- Keranjang rumput
- Sapu, sikat, sabit
- Alat pengangkut kotoran
Penyakit Sapi
Sapi merupakan hewan peliharaan yang membutuhkan perhatian lebih dari segi kesehatannya, tidak sedikit para peternak yang tidak mengetahui jenis-jenis penyakit pada sapi yang dapat mematikan sapi tersebut. Supaya ternak sapi kita dapat terhindar dari penyakit kita harus mengetahui jenis-jenis penyakit pada sapi dan cara menanggulanginya.
1. Antrrax 1 (Radang Limpa)
Penyebab: Bakteri yang disebut Bacillus antharis. Sporanya tahan sampai 20 tahun
Gejala:
• Dalam keadaan mendadak gejala ini tidak tampak, demam tinggi kemudian menjadi dingin kembali, badan gemetar dan lemah.
• Sukar bernapas, kadang-kadang mencret berdarah.
• Kebengkakan di bawah kulit leherr, dada, dan perut.
• Sapi mati mendadak dan keluar cairan darah dari lubang hidung, mulut, dan dubur.
Pencegahannya: Vaksinasi yang teratur setiap 6 bulan sekali
Pengobatan: sapi yang sakit atau yang sudah mati jangan disembelih, bakar dan lapor ke Dinas Peternakan
Gejala:
• Dalam keadaan mendadak gejala ini tidak tampak, demam tinggi kemudian menjadi dingin kembali, badan gemetar dan lemah.
• Sukar bernapas, kadang-kadang mencret berdarah.
• Kebengkakan di bawah kulit leherr, dada, dan perut.
• Sapi mati mendadak dan keluar cairan darah dari lubang hidung, mulut, dan dubur.
Pencegahannya: Vaksinasi yang teratur setiap 6 bulan sekali
Pengobatan: sapi yang sakit atau yang sudah mati jangan disembelih, bakar dan lapor ke Dinas Peternakan
2. Apthae Epizootica (penyakit mulut dan kuku/AE)
Penyebab: Virus
Penularan:
Penularan:
• Kontak langsung dengan sapi/domba/kambing yang terkena sakit AE
• Kontak dengan ternak yang habis sakit AE (carrier)
• Kontak dengan ternak yang habis sakit AE (carrier)
Gejala:
• Timbul lepuh-lepuh pada selaput lender, bibir, dan gusi
• Demam
• Napsu makan turun
• Banyak keluar air liur
• Dicelah kuku terjadi luka, akibatnya sapi pincang bahkan ada yang sampai tidak bisa jalan.
Pencegahan: Vaksinasi dengan vaksin AE 6 bulan sekalitan
Pengobatan:
• Sapi yang sakit dipisahkan, kemudian diobati dengan anttibiotik/obat sulfat.
• Kandang dan peralatannya didisinfeksi dengan larutan disinfektan caustic soda 2%
3. Septichaemia Epizootica (penyakit ngorok/SE)
Penyebab: Semacam bakteri yang disebut Pasteurella multocida
Penularan: Biasanya melalui alat pencernaan (makanan/air minum), serangga, dan luka.
Penularan: Biasanya melalui alat pencernaan (makanan/air minum), serangga, dan luka.
Gejala:
• Timbul bengkak di daerah leher dan dada
• Panas badan naik
• Napsu makan berkurang
• Lidah bengkak dan menjulur keluar
• Mulut berbuih dan menganga terus
• Sulit bernapas dan bersuara seperti mengorok
Pencegahan: Vaksinasi dengan vaksin SE tiap 6 bulan sekali
Pengobatan: Dengan antibiotika atau serum SE
Dan ada beberapa jenis penyakit lagi yang belum sempat saya ketik di postingan kali ini, tunggu aja....
Upaya Penanganan Kesehatan Sapi Perah
Untuk memperoleh hasil susu sapi perah yang optimal, diperlukan upaya penanganan kesehatan sapi perah melalui pencegahan dan pengendalian penyakit secara tepat.Dalam usaha sapi perah, kesehatan hewan merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaannya. Sapi yang kondisinya lemah akan mudah sekali terserang oleh infeksi penyakit baik yang menular maupun yang tidak menular. Usaha sapi perah harus terletak di daerah yang tidak pernah terjangkit atau daerah endemis penyakit hewan menular atau tidak ditemukan gejala klinis maupun bukti adanya penyakit lain seperti, antara lain : penyakit Antraks (radang limpa), penyakit mulut dan kuku (Foot and Mouth Disease), penyakit ngorok/mendekur (septichaemia epizootica/SE), dan Brucellosis (kluron menular).
Untuk memperoleh hasil yang optimal dalam usaha sapi perah diperlukan perhatian khusus mengenai gejala/tanda-tanda suatu penyakit, penyebab, pencegahan, dan pengendaliannya. Pada umumnya penyakit ternak/hewan dapat disebabkan oleh mikroba (bakteri, virus dan protozoa), parasit (eksternal maupun internal), jamur atau karena gangguan/kelainan metabolisme (termasuk di dalamnya karena defisiensi nutrisi ataupun kena racun) dan gangguan reproduksi.
Adapun penyakit yang sering menyerang sapi perah, antara lain : penyakit antraks, penyakit mulut dan kuku (PMK) atau Apthae epizootica/AE, penyakit ngorok, penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot), penyakit brucellosis dengan tanda-tanda, penyebab dan pengendaliannya, sebagai berikut :
(1) Penyakit Antraks, penyebabnya yaitu Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan. Adapun tanda-tanda penyakit antraks, yaitu: Pada umumnya ternak mati secara mendadak (berakut) tanpa didahului gejala klinis yang nyata dan biasanya diikuti dengan keluarnya darah yang berwarna hitam dari lubang tubuh. Apabila sempat muncul gejala khusu secara cepat biasanya berupa demam tinggi, badan lemah dan gemetar; gangguan pernafasan; pembengkaan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; limpa bengkak dan berwarna kehitaman. Sedangkan pencegahan dan pengedaliannya, yaitu: vaksinasi, pengobatan antibiotik, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta ternak yang mati (bangkai) karena antraks dilarang keras dibuka (bedah bangkai) serta harus segera mengubur/membakar sapi yang mati;
(2) Penyakit Mulut dan Kuku atau Apthae epizootica/AE, penyebabnya yaitu virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE. Adapun tanda - tanda penyakit mulut dan kuku, yaitu : rongga mulut, lidah, dan tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; demam atau panas, suhu badan menurun drastis; nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; air liur keluar berlebihan. Sedangkan pencegahan dan pegendaliannya, yaitu : vaksnasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah;
(3) Penyakit Ngorok, penyebabnya yaitu bakteri Pasteurella multocida dengan penularannya melalui makanan dan minuman tercemar bakteri. Adapun tanda - tanda penyakit ngorok, yaitu: kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah kebiruan; leher, anus, dan vulva membengkak; paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua. Apabila dilakukan bedah bangkai, maka demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12 - 36 jam. Sedangakan pencegahan dan pengendaliannya, yaitu: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotik atau sulfa;
(4) Penyakit Radang Kuku atau Kuku Busuk penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor. Adapun tanda-tanda penyakit Kuku Busuk, yaitu: mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; kulit kuku mengelupas; tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh. Sedangkan pencegahan dan pengobatannya, yaitu dengan memotong kuku dan merendam bagian yang sakit dalam larutan refanol selama 30 menit yang diulangi seminggu sekali serta menempatkan sapi dalam kandang yang bersih dan kering;
(5) Penyakit Brucellosis, penyebabnya yaitu Kuman Brucella abortus. Adapu gejala (tanda-tanda) penyakit Brucellosis, yaitu: biasanya terjadi keguguran pada kebuntingan 5-8 bulan. Sedangkan pencegahan dan pengendaliannya, yaitu: pemeriksaan darah secara berkala, menjaga kebersihan kandang dan melakukan desinfeksi kandang/sekitarnya apabila terjadi keguguran (abortus) karena cairan abortus sangat menular kepada ternak lainnya, dan vaksinasi.
Sumber : http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/upaya-penanganan-kesehatan-sapi-perah
Label:
kesehatan,
penanganan,
perah,
sapi,
upaya
Potensi Peternakan Sapi Potong di Jawa Timur
Sebagai gambaran. Pentingnya peternakan sapi di Indonesia adalah masih tergantungnya dari suplai Luar Negeri. Untuk memenuhi kebutuhan daging serta sapi bakalan yang akan digemukkan oleh feedloter sampai saat ini masih tergantung pada impor. Data Asosiasi Produsen Daging dan Feedloter Indonesia (APFINDO) menunjukkan bahwa tidak kurang dari 200.000 ekor sapi bakalan per tahun diimpor dari luar negeri, bahkan sumber lain menyebutkan sampai mencapai 400.000 ekor per tahun. Dengan asumsi harga sapi Rp 3.000.000,- per ekor maka setiap tahun Indonesia harus membayar sebesar Rp 600 milyard sampai Rp 1,2 trilyun untuk pembelian sapi bakalan tersebut.Pola Pemerintah mengenai agribisnis sapi potong yang dipusatkan kepada masyarakat sebagai pemilik ternak dengan dibimbing oleh Pemerintah sampai saat ini belum mampu menjawab tantangan penyediaan bibit sapi bakalan, pemenuhan kebutuhan daging serta yang lebih penting lagi adalah belum adanya perbaikan mutu genetik ternak secara kontinyu. Sehingga kualitas sapi potong yang ada bukannya meningkat dari tahun ke tahun, namun justru dalam keadaan sebaliknya yaitu mengalami degradasi mutu genetik dan performans. Hal ini disebabkan bahwa sapi-sapi keturunan hasil persilangan melalui kawin suntik (F-1) pada umumnya dipilih oleh peternak untuk dipasarkan dan dipotong, karena memiliki nilai jual yang lebih tinggi daripada bukan hasil kawin suntik (bukan persilangan).
Propinsi Jawa Timur
Secara geografis total luas lahan sawah irigasi di Jawa Timur pada tahun 2007 sekitar 1.159.592 ha.(BPS,2008), yang mana pada lahan tersebut sebagian besar ditanami padi dalam setahun 2 kali tanam, bahkan ada yang dapat ditanami 3 kali setahun. Disamping penggunaan lahan beririgasi, wilayah Jawa Timur juga terdapat lahan kering yang potensial untuk mendukung pengembangan ternak sapi potong. Total dari berbagai bentuk jenis lahan kering (Tegal/kebun, Ladang, dan padang penggembalaan) pada tahun 2007 ada sekitar 1.225.104 juta Ha. Melihat keadaan lahan kering yang relatif luas, maka sangat potensial bagi ketersediaan limbah pertanian, dengan kata lain bahwa Propinsi Jawa Timur disamping merupakan lumbung pertanian juga merupakan lumbung ternak secara nasional. Hal ini terlihat dampak positifnya, bahwa usaha pengembangan ternak sapi potong dimasyarakat berkembang pesat, disisi lain juga mampu memberikan peluang usaha dan pendapatan sebagian masyarakat pedesaan, serta dapat menyumbangkan devisa yang tidak sedikit.
Di kabupaten Blitar saat ini telah dilaksanakan program pengembangan ternak sapi dengan sistem SIPT. Dimana program tersebut dilaksanaan sejak tahun 2002. di Blitar daerah yang dialokasikan di kecamatan Wlingi desa Klemunan. Dan mulai pada tahun 2003 dikembangkan di desa Siraman kecamatan Kesamben.yang melibatkan dua kelompok ternak sapi (Dinas Peternakan Kabupaten Blitar, 2003)
Aspek lainnya seperti pembinaan perlu ditingkatkan, karena peternak yang ikut kegiatan SIPT merupakan peternak pemula, otomatis ini membutuhkan bimbingan teknis secara terpadu, yang selama ini terkesan kurang adanya koordinasi antara kelompok dan dinas terkait. Berbeda halnya di kabupaten Magetan bahwa kebanyakan peternak berminat pada sapi yang digemukkan yakni jenis sapi peranakan Boss Taurus seperti Simental, Limausin dan jenis Brangus. Alasannya adalah selain pesat pertumbuhannya juga mudah dalam pencarian ternak
Di kabupaten Pasuruan dengan ketersediaan lahan potensi pertanian yang tersedia cukup baik dan sangat potensial untuk dikembangkan ternak sapi potong. Namun yang perlu mendapat perhatian bahwa dengan kondisi perkembangan areal tanaman komoditas padi dan palawija, nampaknya wilayah Pasuruan sudah mengalami stagnasi, maka apabila wilayah ini dijadikan areal pengembangan sapi potong perlu diperhatikan adanya kontinuitas ketersediaan pakan. Lebih-lebih dalam pengembangan ternak sapi potong yang sepenuhnya mengandalkan limbah pertanian dimasa mendatang dan tentu perlu dipertimbangkan adanya “Buffer Stock” kebutuhan pakan.
Teknis Budidaya
I. Persyaratan Lokasi
Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.
Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.
Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.
Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan lainnya.
Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5×2 m atau 2,5×2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8×2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5×1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).
Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab. Pembuatan kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang meliputi konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang.
II. Pembibitan
Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:
1) Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya.
2) Matanya tampak cerah dan bersih.
3) Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.
4) Kukunya tidak terasa panas bila diraba.
5) Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.
6) Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.
7) Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.
III. Penyakit
1. Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan.
Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman.
Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
2. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.
Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan.
Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.
3. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri.
Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.
Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.
4. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.
Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.
Pengendalian penyakit sapi yang paling baik menjaga kesehatan sapi dengan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:
1. Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.
2. Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.
3. Mengusakan lantai kandang selalu kering.
4. Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk.
Sumber : http://bisnisukm.com/potensi-peternakan-sapi-potong-di-jawa-timur.html
Langganan:
Postingan (Atom)